Pernahkah kita berpikir untuk apa hujan
itu turun? Untuk apa hujan terus kembali dengan suara yang sama? Setiap orang
menafsirkan kedatangan hujan berbeda-beda, ada yang membencinya ada pula yang
mencintainya. Aku menulis tentang hujan dalam kesunyian, menatap langit gelap
dengan rintikan hujan yang mulai bermunculan. Rupanya hujan merindukan bumi terlalu cepat, aku tersenyum menatap hujan yang kini semakin deras, hanya hujan temanku dikala
aku merasa tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Semua orang sibuk dengan dunianya
masing-masing, begitu denganku yang selalu larut dalam dunia penulisanku
sendiri.
Menulis sambil mendengarkan alunan
musik Back To December ditemani
secangkir coklat hangat dikala musim penghujan sangat nikmat. Aku terus larut
dalam imajinasi membuat suatu ilusi akan seperti apa kisah selanjutnya dalam
cerita yang aku buat ini, apakah nantinya para pembacaku akan menyukai alur
yang seperti ini atau jika aku rombak semua alur mereka akan merasa lebih puas?
Atau mungkin mereka tidak suka jika aku buat alur yang seperti ini! Menjadi
penulis itu tidak mudah, terkadang aku kehilangan jati diriku entah apa
alasannya.
Tapi itu semua tidak membebaniku, aku
suka menulis kisah romantis yang jarang terjadi dalam dunia nyata kalaupun ada
itu bisa dalam hitungan manusia saja yang ada di dunia ini. Setiap kisahku yang
aku tulis selalu berhubungan dengan hujan, mengapa hujan? Karena hujan selalu
datang dalam ketenangan. Seperti saat ini aku mengetik cerita ini dalam suasana
hujan dengan suaranya yang lembut. Siapa lagi yang akan menjadi temanku disaat
aku merasakan kesepian? Hanya hujan, terkadang aku meluapkan rasa kesal dalam
hidupku diderasnya hujan membiarkan rintikan hujan mengenai sekujur tubuhku.
Aku berteriak dalam hati, air mata yang
mengalir bersama hujan membuatku tenang. Tidak ada yang menyadari jika aku
menangis, hujan menutupi tangisku dan juga hujan melindungi kesedihanku.
Kesakitan hati ini meluap saat aku mengadahkan kepala membiarkan air hujan
menyentuh wajahku, sakit tapi membuatku tenang.
Menyatu dengan hujan membuatku bahagia,
bernostalgia bersama kedua sahabatku pecinta hujan. Kita tertawa bermain
bersama diderasnya hujan membuatku merasa lengkap dan merasakan sempurna. Tapi
waktu begitu cepat berlalu, aku tidak menyalahkan waktu yang memisahkan kita
bertiga. Waktu tetaplah waktu yang terus berputar mengikuti poros skenario
semesta.
Aku ingin menghentikan waktu dimana
hanya kebahagiaan yang menghampiriku, katakan egois? Aku tidak munafik aku
ingin bahagia. Manusia yang lain pasti ingin bahagia tanpa kesedihan dalam
hidupnya, tapi aku sadar ada seseorang yang pernah bilang padaku, "Jika hidupmu terus bahagia tanpa
masalah, hidupmu kurang bermakna" ucapan dia benar. Rupanya
kehidupan akan selalu didatangi masalah karena masalah adalah pemanis dalam
hidup ini, kehidupan jika tidak ada masalah akan terasa hambar. Rintangan
adalah tantangan apakah kita sanggup untuk melawannya atau kita menyerah layaknya
pengecut yang kabur dari masalah. Walaupun masalah datang menghampiriku saat
ini, aku akan melawannya tanpa rasa takut karena aku memiliki dukungan
orang-orang yang selalu menjadi penyemangat hidupku.
Hujan reda begitu pula dengan kisah
singkat ini. Aku menghentikan tulisanku dan inilah kisah antara aku dan hujan
di bulan Desember. Terima kasih hujan kau adalah teman terbaik disaat aku
merasa hidup ini tidak memiliki makna kau bersedia menerimaku menyembuhkan duka
dalam setiap tetesan airmu yang selalu menjadi penenang.