Rabu, 04 Desember 2019

Aku dan Hujan Desember


Pernahkah kita berpikir untuk apa hujan itu turun? Untuk apa hujan terus kembali dengan suara yang sama? Setiap orang menafsirkan kedatangan hujan berbeda-beda, ada yang membencinya ada pula yang mencintainya. Aku menulis tentang hujan dalam kesunyian, menatap langit gelap dengan rintikan hujan yang mulai bermunculan. Rupanya hujan merindukan bumi terlalu cepat, aku tersenyum menatap hujan yang kini semakin deras, hanya hujan temanku dikala aku merasa tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing, begitu denganku yang selalu larut dalam dunia penulisanku sendiri.

Menulis sambil mendengarkan alunan musik Back To December ditemani secangkir coklat hangat dikala musim penghujan sangat nikmat. Aku terus larut dalam imajinasi membuat suatu ilusi akan seperti apa kisah selanjutnya dalam cerita yang aku buat ini, apakah nantinya para pembacaku akan menyukai alur yang seperti ini atau jika aku rombak semua alur mereka akan merasa lebih puas? Atau mungkin mereka tidak suka jika aku buat alur yang seperti ini! Menjadi penulis itu tidak mudah, terkadang aku kehilangan jati diriku entah apa alasannya.

Tapi itu semua tidak membebaniku, aku suka menulis kisah romantis yang jarang terjadi dalam dunia nyata kalaupun ada itu bisa dalam hitungan manusia saja yang ada di dunia ini. Setiap kisahku yang aku tulis selalu berhubungan dengan hujan, mengapa hujan? Karena hujan selalu datang dalam ketenangan. Seperti saat ini aku mengetik cerita ini dalam suasana hujan dengan suaranya yang lembut. Siapa lagi yang akan menjadi temanku disaat aku merasakan kesepian? Hanya hujan, terkadang aku meluapkan rasa kesal dalam hidupku diderasnya hujan membiarkan rintikan hujan mengenai sekujur tubuhku.

Aku berteriak dalam hati, air mata yang mengalir bersama hujan membuatku tenang. Tidak ada yang menyadari jika aku menangis, hujan menutupi tangisku dan juga hujan melindungi kesedihanku. Kesakitan hati ini meluap saat aku mengadahkan kepala membiarkan air hujan menyentuh wajahku, sakit tapi membuatku tenang.

Menyatu dengan hujan membuatku bahagia, bernostalgia bersama kedua sahabatku pecinta hujan. Kita tertawa bermain bersama diderasnya hujan membuatku merasa lengkap dan merasakan sempurna. Tapi waktu begitu cepat berlalu, aku tidak menyalahkan waktu yang memisahkan kita bertiga. Waktu tetaplah waktu yang terus berputar mengikuti poros skenario semesta.

Aku ingin menghentikan waktu dimana hanya kebahagiaan yang menghampiriku, katakan egois? Aku tidak munafik aku ingin bahagia. Manusia yang lain pasti ingin bahagia tanpa kesedihan dalam hidupnya, tapi aku sadar ada seseorang yang pernah bilang padaku, "Jika hidupmu terus bahagia tanpa masalah, hidupmu kurang bermakna" ucapan dia benar. Rupanya kehidupan akan selalu didatangi masalah karena masalah adalah pemanis dalam hidup ini, kehidupan jika tidak ada masalah akan terasa hambar. Rintangan adalah tantangan apakah kita sanggup untuk melawannya atau kita menyerah layaknya pengecut yang kabur dari masalah. Walaupun masalah datang menghampiriku saat ini, aku akan melawannya tanpa rasa takut karena aku memiliki dukungan orang-orang yang selalu menjadi penyemangat hidupku.

Hujan reda begitu pula dengan kisah singkat ini. Aku menghentikan tulisanku dan inilah kisah antara aku dan hujan di bulan Desember. Terima kasih hujan kau adalah teman terbaik disaat aku merasa hidup ini tidak memiliki makna kau bersedia menerimaku menyembuhkan duka dalam setiap tetesan airmu yang selalu menjadi penenang.


Senin, 11 November 2019

Rinai Hujan oleh Citra Puteri

Rinai Hujan
oleh citra puteri

Dimasa rindu
Suara tak berbising
Menanti sabda menyerbak
Kehadiranmu disambut sumringah

Merindu
Berada dikuasamu
Menemani hari letih
Dikala tak ada yang mendengar

Bisikan lirih terdengar
Mengadah tersenyum pelita
Kau merasakan apa yang ku rasa
Kau mengerti apa yang ku inginkan

Kesendirianku kau temani
Kepedihanku kau nikmati
Ketangisanku kau hayati
Kesakitanku kau obati

Teruslah seperti ini
Hadir menemani sepiku
Ku membutuhkanmu
Hujan

Pergilah Kasih oleh Citra Puteri

Pergilah Kasih
oleh citra puteri

Semilar angin berhembus menyerbu
Memejamkan mata berilusi semata
Senyuman dinginmu menggetarkan relung hati
Ku merintih dalam hati mengharapkanmu ada disisiku

Gunung, angin lembut menjadi saksi
Bahwa ku merindukanmu
Dinginnya hari ini menyelimutiku
Menghalu mengharapkanmu masih ada disisiku

Ku lelah meratapi kepahitan
Menangisi kenangan yang hanya tinggal kenangan
Menangis tanpa buliran air mata, terdiam ditemani hujan pedihku

Mengapa ku harus terjatuh padamu?
Haruskah mencintaimu semenyakitkan ini?
Bisakah aku bahagia tanpamu?

Ternyata dirimu senja
Sekejab menghilang ditelan kabut kegelapan mencekam
Berharap kau melihatku sejengkal saja

Cinta
Satu kata sejuta kemuakan
Aku tidak ingin tertatih kesakitan seperti ini
Melihatmu bisa hidup tanpku

Miris
Ku menatap bayangan
Menertawai diri sendiri layaknya domino retak
Ku ingin bahagia walau itu tanpamu

Kini gunung, angin serta kabut
Menjadi janji bisu
Aku melepaskanmu
Dengan senyuman kepahitan